""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Rabu, 02 Juli 2014

Tiada Lagi Pelangi Untukku

Rintik satusatu begitu mendenting
menusuk meresap membawa sejuta makna
kucoba maknai kepergianmu
kucoba maknai jarum perihkan luka
menyibak waktu simponikan kidung duka

jerit lara tiada kau dengar
sayatan serupa duri kian tajam tiap detik kau tancapkan
menjerit pada ruang sepi tiada gapai jemarimu
tiada dengar rajuk manjamu
sendiri maknai puisi luka pada
langit panas merintik tetes embun
namun tiada pelangi di sana

Jumat, 06 Juni 2014

Menggenang Kenangan Itu

Pernah kucoba tak lagi hadirkan kamu dalam sajakku
tentang kupukupu putih manja hinggap di daun cengkeh
tentang betapa kamu tidak menyukai "bang Rhoma" tapi kamu senang
lagu "syahdu" dalam sebuah buku
Juga tentang pantai dan laut bila senja di matamu

aku telah coba tak lagi tulis kamu dalam sajakku
tentang ego kaku, dan tak mau mengalah
tentang betapa kamu sangat senang angka itu ya "keramat"
atau pun tentang bingungmu bila diam dan menjauh

aku benar mencoba tak lagi imajikan kamu dalam sajakku
tentang ucapmu yang kadang tak sepaham dengan tatapanmu
tentang betapa senyum itu masih saja bersemayam
atau pun tentang sudut simpul di pipi ranummu

aku berkali coba tak hadirkan rohmu dalam sajakku
tapi, masih saja kamu hadir, masih saja ada kamu
mungkin memang aku belum bisa berhenti
menggenang kenangan itu, menggenang tenggelamkan kamu
dalam kata ditiap bait sajaksajakku

Selasa, 27 Mei 2014

Rembulan Berkerudung

menetas perlahan lampu taman iringi redup pucat senja dalam pelukan
teriakkan ngengat, mrutu, dan serangga malam tanpa lelah putari lampu taman
bersandar pada tembok di bawah tugu kala itu
ada rasa menggelayut pada angin yang menghasut
gemerisik dedaun, klakson, serta derit sepeda tua
hantarkan hadirmu tiba-tiba rembulan berkerudung


Kau bercanda dengan rumput, kau mainkan mata indahmu pada dahan waktu
Sesekali senyum itu hantarkan jawab pada tanya yg kupendam


Rembulan berkerudung keemasan semakin silaukan senja,
pekat memudar dalam buai imaji, bersenandung hantarkan irama hati, 
padamu yang hadir mewaktu, kutitipkan secuil asa. 

Senin, 26 Mei 2014

Kutitipkan Padamu Luka ini

sendiri memilah kisah tentangmu
kuserat pada derai daun-daun kehidupan
pagutan angin begitu kuat kecup luka daripada tawa
rintik satusatu nodai kisah anak manusia menyapa tibatiba
menyeruak hingga kembali menganga
berkisah tentang mata, bibir, hati yang tak selalu sama

bibirmu berkata, tapi hatimu bergolak
dan pada matamu aku temukan "kasunyatan"
kau lumuri diri dengan luka,
tuk tanggalkan setandan nyaman,
pada sajak kutitipkan luka setapak.

25052014