""Biarlah hati temukan kata-kata, biarlah kata-kata membentuk sajak ataukah prosa, dan biarkan makna mengalir seiring detik kehidupan""

Senin, 23 Februari 2015

Duka abadi

Kau sudah simak guratan lara dahiku
torehan kata serupa aksara dieja tanpa makna
tersusun dalam pelukan mendung
pada jejak terjal tersusun rindu usang

kini mendekam merindukan bulan
selaksa bening menitis pada kibasan waktu
berselendang duka berlalu tinggalkan tawa sinismu


Jumat, 30 Januari 2015

Bendera itu Setengah Tiang sekarang

Indonesia raya berkumandang begitu bel tanda masuk dibunyikan.
Kutatap wajahwajah penuh harapan.
Tegak dan gagah kalian lantunkan, sembari memandang bendera di sudut ruang.
Kepalaku pening tibatiba angin berputar merasuk dan membuncah suasana,
denging semakin kencang menyusup di telinga
"Hukuman mati, koruptor, narkoba, polri, kpk, kurikulum,
pembunuhan, artis kawin cerai, pamer kekayaan, politik,
demokrasi membusuk, bencana, kemiskinan, racun televisi"
Kutatap kembali bendera diakhir lagu,
perlahan bendera itu turun setengah tiang,
kubuka lebar mata, berkedip dan benar bendera itu berhenti setengah di sana.
Aku hanya bergumam tanpa bs kuucap
"PR mu semakin banyak di masa mendatang anakanakku"
seiring syair "hiduplah INDONESIA RAYA.....
(28 Jan 2015)

Kemana Anak-anak Surau Pergi?

Sayup meretas pekat menyusup bertengger pada sayap ngengat dan laron, huruf hijaizah itu terlafal dengan mahraj yang menyejukkan. Suara parau guru ngaji pada sebuah surau di pinggir hutan itu masih bertahan, walau rintik masih menderas, angin makin tajam membuat gigil pada daun. Suara serempak menirukan sang guru. Aku terdiam di sudut serambi menunggu hujan usai, begitu damai mereka lantunkan. Langit terbuka tiba2 dengan cahaya terang, lantunan itu melangit meruang.
"Masuk saja, mari duduk di dalam, sebentar lagi isyak"
"Pada ke mana anak-anak yang mengaji tadi?"
"Anak-anak yang mana mas? Hanya saya sendiri sedari magrib di sini"
"Trus tadi suara anak-anak yang mengaji menirukan.., siapa mereka?"
"Ah mas ini, saya azan dulu mas, kita jamaah, syukurlah ada mas, jadi aku bisa melaksanakan jamaah isya di surau tua ini, mas ambil air wudlu dulu ya"
aku hanya terdiam mematung memandang sekeliling.

28 Januari 2015

Surau yang ditinggalkan

"Duduk saja dulu, hujan belum reda di luar"
"Iya kyai, tapi mengapa hanya kyai sendiri, di mana warga yang lain"
"Pertanyaan yang sudah kuperkirakan akan mas sampaikan, semua sudah pergi mas, semua meninggalkan desa dan surau ini, aku bukanlah kyai seperti kiramu, aku hanya orang yang diamanati membersihkan dan menjaga surau ini mas, aku jg tidak tahu mengapa mereka tidak mau kembali dan tinggal di sini, bahkan anak, menantu dan cucuku sendiri ikut pergi mas" wajahnya menunduk.
"Maafkan saya Bapak, maaf bila panggil kyai tadi. Saya benar2 tdk mengerti .."
"Tidak apa-apa, semua orang yang berkesempatan mampir sholat di sini pun memanggiku kyai, mas" jawabnya.
"Bapak sendiri mengurus surau ini, tiada yang lain, terus bapak kerja di mana selain di surau?"
"Sudahlah mas, hujan sudah reda, tentu keluargamu menunggu"
"Insya Allah esok bila ada waktu saya akan jamaah dengan Bapak lagi"
Lelaki tua itu hanya tersenyum, perlahan ia mengantarku keluar surau.
"Bapak tidak pulang?, apakah Bapak akan tetap di sini?" Sambil kupakai jaket dan helmku
"Iya mas, aku tetap jaga surau ini. Rumahku di sudut desa setelah batas desa itu." Sembari menunjuk arah kesebuah tugu.
"Mari Bapak.. Saya pamit dulu, assalamualaikum.."
"Waalaikum salam" jawabnya
Kulalui desa yang sepi tanpa penghuni, tiba pada tugu batas desa kulirik ke kanan yang ada hanya kebun dan kulirik ke kiri sebuah rumah kecil di antara puluhan Nisan membisu basah kedinginan.
"Assalaualaikum ya ahli kubur"
Aku tengok spion motorku tak ada lagi batas desa, tak ada lagi rumah, surau pun tiada terlihat di sana.

 Al fathekah.....

Selasa, 06 Januari 2015

Pudar

tiada lagi kata lepas dari gandewa menjadi bait bait sajak
entah kapan purnama kan mengembang di tengah badai mendung
tak lagi mampu lukis sketsamu bahkan secuil senyum yang dulu bersemayam
pun kerling di mana aku temukan lukisanku di sana kini memudar
hanya rintik yang bercerita tentang malam